Sejarah Panjang Berdirinya Detik.com. Detikcom awalnya
adalah proyek pribadi sebuah perusahaan penyedia jasa konsultasi, pengembangan,
dan pengelolaan web, Agranet Multicitra Siberkom. — Di singkat menjadi Agrakom
— Untuk mensiasati kondisi perusahaan saat krisis ekonomi 1997. Agrakom saat
itu seperti banyak perusahaan lain juga menghadapi persoalan. Order jasa web
site terhenti, sementara proyek-proyek e-commerce yang sudah di tangan di tunda
oleh klien. Padahal Agrakom yang berdiri Oktober 1995 dengan investasi yang
lumayan gede.
Agrakom termasuk salah satu pelopor Industri konten IT yang menyasar pasar
Internet yang mulai di kenal di Indonesia pada tahun 1993. Agrakom sempat
beberapa kali mengecap manisnya kue bisnis itu dari beberapa klien besar
seperti Kompas Gramedia yang meluncurkan Kompas Cyber Media untuk berita koran
versi Internet atau PT. Tambang Timah Tbk.
Agrakom didirikan oleh Budiono Darsono dan teman teman yang sebagian besar
berlatar belakang Jurnalis, pada masa awal Agrakom berkantor di perkantoran
Stadion Lebak Bulus, namun berhasil menggaet sekitar 10 klien raksasa dari luar
negeri. Antara lain Philips (elektronik), Hair Builder (properti), Anderson
(News), Radio Extreme (Konsultan Sekuritas), Intel dan AIM Service. Umumnya
klien tersebut perusahaan Amerika dan tidak memiliki kantor di Indonesia.
Kepada Agrakom sebagian besar perusahaan tersebut mempercayakan penggarapan dan
pengembangan situs Web mereka. Sebagian lainnya mengorder jasa pengembangan
aplikasi. Semua kontak bisnis dilakukan melalui email dan telepon. Preview
pekerjaan juga dilakukan melalui Internet. Adapun diskusi pekerjaan
dipresentasikan melalui Chat yang secara khusus dibuat oleh Agrakom.
Nilai proyek yang ditangani terus meningkat, awalnya hanya Rp. 300 juta, lalu
meningkat Rp. 425 juta bahkan sempat sampai mencapai Rp. 1 Miliar. Tapi kue
manis tersebut tak berlangsung lama, Krisis Moneter 1997 membuyarkan semuanya.
Mensikapi kondisi tersebut , kemudian Budiono Darsono (eks Wartawan DeTik),
Yayan Sofyan (eks Wartawan DeTik), Abdul Rahman (eks Wartawan Tempo) dan Didi
Nugrahadi (tetangga rumah Budiono yang tinggal di Pamulan Tangerang). Empat
sekawan ini berpikir keras mencari konsep jasa web baru yang tetap laku dalam
situasi krisis. Ada cerita lain bahwa ide ini lahir akibat paket layanan baru
dan pernah ditawarkan kepada salah satu penerbit koran besar, namun ditolak.
Klien itu justru menyarankan agar Budiono dan kawan kawannya menggarapnya
sendiri.
seminar01Dari serangkaian pertemuan, nongkrong di berbagai tempat, akhirnya
konsep itu ditemukan. Yaitu sebuah media yang 100% berbasis Internet dan
memanfaatkan semaksimal mungkin keunggulannya - tersedia setiap saat dan
interaktif. Namun gagasan ini masih mentah karena Budiono dan kawan kawan masih
bingung seperti apa wujudnya.
Terdapat beberapa alternatif matang dan tinggal menjiplak saja. Misalnya waktu
itu lagi populer sekali Yahoo, dimana orang yang mau browsing pasti ke Yahoo
dulu, buat cari informasi, jadi ada rencana buat portal seperti Yahoo, atau
bikin Web Mail Gratis macam Hotmail. Tetapi pilihan akhirnya jatuh pada membuat
situs berita yang cepat terupdate dalam hitungan menit, bukan lagi harian
seperti koran. Budiono sangat yakin orang-orang sedang membutuhkan berita macam
begini. Gagasan itu sepertinya mencontek gaya breaking news televisi CNN tetapi
ala internet. Sama juga seperti Yahoo! yang sebetulnya sudah memakai konsep itu
dengan berita update langganan dari pelbagai kantor berita. Sayangnya, mesin
pencari ini masih berbahasa Inggris. Padahal di Indonesia hanya sedikit orang
yang mau baca Web Site berbahasa Inggris.
Detik.com waktu itu memang unik. Jangankan Di Indonesia, di seluruh dunia pun
waktu itu tidak ada Portal Berita macam Detik.com. Pada awal operasionalnya
Budiono menjabat sebagai pemimpin redaksi sekaligus reporter dengan satu tape
recorder. Lalu merekrut beberapa reporter, sembari rajin menelepon bekas
teman-teman wartawan di media lain untuk menyumbang berita. Beritanya singkat,
orang yang sering di telpon Budiono adalah Sapto Anggoro, redaktur di harian
Republika, yang kerap memberi info baru di lapangan kepadanya. Tidak lama Sapto
justru keluar dari koran itu dan bergabung, bahkan sekarang tercantum sebagai
dewan redaksi Detikcom.
Delapan hari setelah Soeharto lengser, 30 Mei 1998, server Detikcom sudah siap
di akses, namun baru mulai on line dengan sajian lengkap pada 9 Juli 1998.
Berita-beritanya segar, anyar, dan terus menerus diperbaharui dalam hitungan
detik. Desain website berbalut warna khas yang agak norak, hijau, biru, dan
kuning. Warna ini sampai sekarang dipertahankan sebagai trademark. Baru sebulan
Detikcom on line telah ada sekitar 15.000 hits alias yang mengklik situs baru
itu. Perkiraan itu akhirnya terbukti karena dalam waktu singkat Detikcom
menjadi sangat dicari. Satu tahun kemudian, jumlah pengunjung melesat menjadi 50.000
orang perhari, sebuah pencapaian luar biasa mengingat pengguna Internet yang
baru sedikit saat itu.
Banyak cerita tentang sulitnya para reporter Detikcom menyajikan berita -
berita secara tepat waktu. Saat itu belum ada BlackBerry atau semacam SmartPhone
yang bisa mengirimkan email berita dengan sekali pencet. Telepon genggam
(Handphone) apalagi PDA di tahun 1998 - 1999 amat mahal, dan terbatas. Satu
satunya jalan adalah memanfaatkan telepon umum dan setiap pagi para reporter
Detikcom terlebih dahulu diwajibkan untuk masuk ke kantor mengambil beberapa
kantung uang recehan. Yang terjadi adalah antrean panjang telepon umum dan para
wartawan itu sering kena omel para pengguna telepon. Dengan begitu berita yang
dikirimkan disiasati lebih singkat dan pendek.
detikKeberhasilan Detikcom pun turut menjadi pemicu munculnya demam Internet di
Indonesia pada pertengahan 1999.
Ini menyadarkan banyak konglomerat media yang merasa kecolongan tidak
memanfaatkan kesempatan emas di waktu yang sulit itu. Lagi pula, membangun
sebuah situs tidak perlu modal yang banyak, seperti mendirikan pabrik. Mulailah
bermunculan perusahaan Internet serius didirikan seperti Satunet, Astaga!com.
James Riyadi pemilik Lippo Life membuat Lippo e-Net dan Lippostar. Adapula
Mweb, Kopitime, dan BolehNet. Bedanya portal-portal tersebut banyak yang
didirikan hanya untuk mendapatkan keuntungan sesaat. Investasi awal jor-joran
dengan menawarkan pelbagai fasilitas canggih berbiaya besar yang di gratiskan
seperti email, chatting, kirim SMS dan bahkan webfax gratis, untuk mengundang
pengunjung. Setelah mencatat banyak hits, mereka melepas kepemilikan di bursa
saham untuk mendapatkan dana.
Di kepung oleh pemodal besar membuat Agrakom pun menjual 15% saham Detikcom
kepada Investor asal Hongkong, Pasific Tech seharga USD2 juta. Uang sebanyak
itu berpuluh kali lipat dari investasi awal DetikCom yang hanya Rp. 40 juta.
Dana sebesar itu membuat Detikcom nervous harus seberapa besar pendapatan yang
diperoleh kalau investasinya saja sudah hampir menginjak belasan juta dollar

Pak Budiono Darsono
Akhirnya di putuskan belanja teknologi dikeluarkan seperlunya. Tenaga penjual
iklan di rekrut. Bahkan, iklan dari dotcom lain di terima, termasuk dari
kompetitor. Awal Januari 2000, Detikcom merilis email gratis, chating, ruang
diskusi, dan menambah sejumlah kanal baru. Ciri khas jurnalistik lebih di
pertajam dengan serangkaian kerja sama organisasi kampanye untuk memasok berita
di daerah. Fasilitas SMS dan WebFax gratis yang biaya operasinya mahal
ditiadakan. Tidak ada biaya promosi miliaran rupiah. Tidak ada content
management system seharga ratu san ribu dolar, tetapi mengembangkan sendiri. Langkah
meniru nan hati-hati itu akhirnya bisa menyelamatkan.
Di awal milenium, krisis dotcom meledak di Amerika Serikat. Saham saham
perusahaan berbasis teknologi bertumbangan. Kekecewaan investor bahwa jaringan
internet ternyata tidak mendatangkan keuntungan seperti yang dijanjikan
terbukti sudah oleh kiamat dotcom yang datang lebih cepat. Dari sisi pendapatan
krisis dotcom tahun 2000 telah menyebabkan banyak pemasang iklan tidak lagi mau
percaya pada media Internet. Satu persatu portal yang pada tahun 1999 tumbuh
pesat, kini mulai gulung tikar. Maka awal 2001 situs situs milik para
Konglomerat Media itu kehabisan modal.
Budiono dan kawan kawan bertahan dengan modal pas-pasan setelah menutup kembali
fasilitas yang di anggap tak menguntungkan. Detikcom masih memiliki napas hasil
menyisakan modal dan sedikit dari penghasilan iklan - Oktober 2000 pendapatan
iklan Detikcom mencapai lebih dari Rp. 500 juta. Berita yang tak banyak
pembacanya dan tak menarik pemasang iklan dihentikan. Serangkaian bidang usaha
baru dirilis, tahun 2003 terlihat bahwa dari beberapa bidang usaha baru, mobile
data (layanan kirim berita lewat SMS) adalah yang paling cepat memberi hasil.
Selanjutnya, Detikcom melenggang sendirian tanpa lawan yang berarti. Banyak
pujian datang karena Detikcom salah satu dari sedikit media yang bisa bertahan
pada era industri media yang mulai bergerak ke arah konglomerasi. Ada Kompas
Gramedia, Media Group, Para Group, MNC, Jawa Pos Group, dan Visi Media Asia.
Dan yang terjadi belakangan pada akhirnya adalah raksasa-raksasa ini justru
mengekor kepada semut. Kompas mereborn Kompas.com, MNC mendirikan okezone.com,
Visi Media milik Grup Bakrie melahirkan VivaNews. Tempo Inti Media mengaktifkan
tempointeraktif.co.id, belum lagi Inilah.com dan Wartaone.com.
Menanggapi banyaknya portal Berita yang muncul, Budiono Darsono bilang “Dulu
pun kami menghadapi pemain modal besar, tapi Detik bisa menghadapinya, Bisnis
ini dibangun dengan semangat jurnalistik, bukan dengan dan Modal”.